Ketik "kurma termanis" dan Anda akan menemukan belasan listicle yang menyebut nama sukari — hampir selalu tanpa satu pun angka. Padahal pertanyaannya ilmiah: manis bisa diukur. Artikel ini mengumpulkan datanya, lalu menjawab pertanyaan lanjutan yang lebih penting: kalau semanis itu, apakah masih layak dikonsumsi setiap hari?
Data Gula Sukari per 100 g
Tinjauan ilmiah di jurnal Frontiers in Nutrition (2025) memberi kita profil gula varietas sukari per 100 g berat kering — dan komposisinya menjelaskan banyak hal:
| Komponen gula | Per 100 g (berat kering) |
|---|---|
| Glukosa | 51,80 g |
| Fruktosa | 47,50 g |
| Sukrosa | 3,20 g |
Perhatikan polanya: gula sukari hampir seluruhnya berupa gula invert (glukosa + fruktosa), dengan sukrosa nyaris nihil. Gula invert terasa lebih "cepat" dan lebih intens di lidah daripada sukrosa — salah satu alasan gigitan pertama sukari terasa seperti karamel madu yang langsung menyala. Jadi reputasi manisnya bukan mitos: komposisi kimianya memang dirancang alam untuk terasa semanis mungkin.
Manis Ekstrem, GI Rendah 43,4 — Kok Bisa?
Inilah paradoks favorit kami. Tinjauan yang sama mencatat indeks glikemik sukari 43,4 — masuk kategori GI rendah (di bawah 55), lebih rendah dari banyak makanan pokok. Tiga faktor menjelaskannya:
- Fruktosa yang dominan dimetabolisme berbeda dari glukosa dan berdampak lebih kecil pada gula darah sesaat.
- Serat — kandungan serat kurma bervariasi 2,1-10,2% menurut kultivar dan kematangan; serat memperlambat penyerapan gula.
- Matriks buah utuh — gula datang terbungkus daging buah, bukan sebagai cairan atau kristal murni seperti pada minuman manis.
Catatan penting: GI rendah bukan izin makan tanpa batas. Porsi tetap menentukan beban glikemik total. Bagi penyandang diabetes, diskusikan porsi kurma dengan dokter atau ahli gizi Anda — angka di atas adalah data pangan, bukan resep medis.
Kalori Sukari: Membaca Rentang 270-373 kkal yang Membingungkan
Basis data gizi daring mencantumkan kalori kurma sukari pada rentang yang lebar — kira-kira 270 hingga 373 kkal per 100 g — dan itu sering membuat pembaca bingung memilih angka. Penjelasannya sederhana: kadar air. Rutab yang mengandung 30-40% air otomatis lebih rendah kalorinya per 100 g dibanding tamr/mufattal yang nyaris kering dengan gula terkonsentrasi. Praktisnya, gunakan hitungan per butir: dengan berat rata-rata 15-20 g, satu butir sukari menyumbang kira-kira 45-60 kkal — setara satu biskuit, tetapi datang bersama serat, kalium (410-1.176,9 mg per 100 g pada kurma menurut tinjauan yang sama), dan tanpa gula tambahan.
Serat dan Kalium: Bonus di Balik Manis
Tinjauan yang sama mencatat dua kandungan pendamping yang membuat manisnya "berisi": serat kurma berkisar 2,1-10,2% tergantung kultivar dan tingkat kematangan — serat inilah yang memberi rasa kenyang lebih lama sekaligus memperlambat penyerapan gula; dan kalium pada rentang 410-1.176,9 mg per 100 g — mineral elektrolit yang dibutuhkan fungsi otot dan keseimbangan cairan. Bandingkan dengan permen atau sirup yang menyumbang gula tanpa pendamping apa pun: di situlah letak perbedaan "kalori kosong" dengan kalori yang membawa bekal.
Sukari vs Varietas Lain: Siapa Juara Manis?
Perbandingan yang jujur perlu dua catatan: persepsi manis dipengaruhi tekstur dan aroma, dan tidak semua varietas punya data gula selengkap sukari. Dengan dua catatan itu:
- Ajwa — kurma hitam Madinah ini justru dikenal tidak terlalu manis; profilnya lebih ke arah kismis dan rempah.
- Medjool — manis karamel yang kuat dengan butir jumbo, tetapi teksturnya lebih padat; banyak penikmat menilai manis sukari terasa lebih "bersih" dan ringan.
- Zahedi — semi-kering, paling rendah kesan manisnya; pilihan mereka yang ingin kurma tidak terlalu manis.
- Safawi & Mabroom — manis sedang dengan tekstur kenyal-padat; pembanding lengkapnya kami tulis di halaman banding tersendiri.
Kesimpulan jujurnya: sukari hampir selalu masuk nominasi teratas kurma termanis, dan datanya — gula invert hampir 100 g per 100 g berat kering — mendukung reputasi itu. Menobatkannya "termanis di dunia" secara mutlak akan butuh pengukuran seragam lintas semua varietas, dan sains belum memilikinya. Yang pasti: di antara varietas populer di Indonesia, sukari adalah patokan rasa manis.
Menikmati si Juara Manis dengan Bijak
Data di atas menyarankan satu cara konsumsi: jadikan sukari pengganti gula dan camilan manis, bukan tambahan di atasnya. Pola yang kami lihat berhasil pada pelanggan: dua-tiga butir mendampingi kopi atau teh tawar menggantikan gula pasir dan kue kering; dua butir sebelum olahraga sebagai bahan bakar cepat; kurma cincang sebagai pemanis oatmeal dan yogurt menggantikan sirup; dan untuk berbuka puasa, tiga butir dengan air putih sebelum makan besar — energi pulih tanpa lonjakan berlebihan. Persepsi manis juga bisa diatur lewat suhu dan tekstur: rutab dingin terasa lebih ringan, mufattal suhu ruang paling pekat. Satu varietas, beberapa tingkat kemanisan — tinggal pilih sesuai selera rumah Anda.
Manis yang Bisa Dinikmati Tanpa Rasa Bersalah
Inilah alasan kami menyimpan stok varietas ini di gudang Cakung: rasa paling manis di kelasnya, dengan profil glikemik yang tetap rendah dan tanpa tambahan apa pun. Untuk merasakan puncak manisnya, coba bentuk rutab dingin; untuk manis paling pekat, pilih mufattal berkristal. Keduanya bisa diantar same-day ke Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, dan Bogor — cukup WhatsApp +62 823-4350-8579. (Konten gizi bersifat edukatif, bukan pengganti nasihat medis.)


